Upaya Pemkab Probolinggo Cegah Stunting

by Oktober 20, 2018

Probolinggo, cakrawalanews.co – Sebagai upaya untuk mencegah stunting, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Probolinggo optimalkan pengasuhan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan).

“Upaya ini dilakukan mengingat latar belakang Kabupaten Probolinggo termasuk wilayah yang banyak kasus stunting. Oleh karenanya ada beberapa desa yang dibuat model Kampung KB dengan alasan desanya masuk kategori stunting,” kata Kepala DPPKB Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto melalui Kepala Bidang Pengendalian Penduduk, Penyuluhan dan Penggerakan Herman Hidayat, belum lama ini.

Demi mencegah stunting tersebut, ujar Herman, DPPKB Kabupaten Probolinggo telah menyiapkan beberapa langkah. Diantaranya, penyuluhan terkait stunting yang dilakukan oleh kader KB di desa dan mendata bayi dibawah 2 tahun (baduta) sebagai sasaran pencegahan stunting.

“Serta program dan promosi untuk menempelkan stiker Ayo Cegah Stunting pada rumah yang ada badutanya. Itulah beberapa langkah yang sudah dilakukan oleh tenaga penyuluh lini lapangan mulai dari tingkat kecamatan, desa hingga RT/RW se-Kabupaten Probolinggo,” jelasnya.

Menurut Herman, DPPKB Kabupaten Probolinggo mempunyai peranan yang cukup strategis dalam rangka pencegahan meningkatnya kasus stunting di dalam masyarakat. Karena sebelum kasus stunting mencuat, program yang disampaikan kepada masyarakat sasarannya mencakup ayah, ibu hamil, bayi, remaja, dewasa dan orang tua dalam rangka pasangan usia subur (PUS) dan lanjut usia (lansia).

“Kami memiliki kegiatan yang bisa untuk mengintervensi terhadap sasaran tersebut. Semua ini dilakukan secara berjenjang oleh petugas lini lapangan,” tegasnya.

Seandainya pengelolaan kegiatan itu dapat berjalan dengan baik, tegas Herman, maka target stunting ini bisa dikurangi atau diturunkan pada kasus-kasus yang akan datang. Seperti halnya peran penyuluh selama ini yang sudah terbukti mampu untuk melakukan pengendalian laju pertumbuhan penduduk melalui peningkatan kesertaan ber-KB pada masyarakat.

“Kalau dilihat dari aspek sasaran, maka program dan kegiatan DPPKB Kabupaten Probolinggo itu tidak hanya mengurangi atau menurunkan laju pertumbuhan penduduk saja, tetapi juga untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” ungkapnya.

Dalam draf RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Kabupaten Probolinggo terang Herman, DPPKB Kabupaten Probolinggo masuk dalam sasaran pengendalian penduduk. Padahal seharusnya aspek kesehatan juga bisa masuk didalamnya.

“Karena jika edukasi atau penyuluhan dilakukan secara optimal terhadap masyarakat mulai cara pengasuhan yang baik, pemberian gizi yang seimbang, peningkatan usia nikah, pengaturan jarak kelahiran dan pengaturan jumlah anak,” tambahnya.

Herman menambahkan, semua itu akan bermuara pada derajat kesehatan penduduk. Dalam arti ayah, ibu hamil, bayi, anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua. Kenyataan itu sudah tidak bisa terbantahkan lagi.

“Masalah kesehatan tidak hanya ditangani oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) saja. Keterlibatan semua pihak termasuk DPPKB sangat membantu untuk menyadarkan perilaku masyarakat dalam membangun keluarga yang sejahtera. Karena sejahtera tidak bisa diukur dari material saja, tetapi juga aspek kesehatan,” pungkasnya. 

Untuk diketahui, stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.

Adapun gelaja yang di alami Anak yang mengalami stunting adalah:
1. Berbadan lebih pendek untuk anak seusianya
2. Proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda/kecil untuk usianya
3. Berat badan rendah untuk anak seusianya
4. Pertumbuhan tulang tertunda.(wan)