Industri Film Rugi Rp636 Miliar Per Tahun Gara-gara Pembajakan

September 14, 2018

Jakarta, cakrawalapost.com – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bersama Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) melakukan riset terkait industri perfilman tanah air. Hasil riset menunjukkan, salah satu tantangan industri perfilman Indonesia adalah pembajakan.

Pembajakan ini diindikasikan dilakukan dengan membuat substitusi film asli dalam bentuk fisik seperti DVD maupun non-fisik seperti saluran online berbayar dengan streaming gratis.

Hasil Riset Bekraf dengan LPEM terkait dampak pembajakan film mengakibatkan hilangnya pendapatan pada usaha perfilman sekitar Rp 31 miliar hingga Rp 636 miliar per tahun.

Ketua Umum Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) Fauzan Zidni, mengatakan pembajakan ini sangat merugikan bagi industri film. Tidak hanya merugikan secara material tetapi juga secara moral.

“Adanya pembajakan ini tidak hanya merugikan secara material. Secara morilnya lebih besar. Tidak bisa dihitung,” ujar Fauzan, Kamis (13/9/2018).

Pembajakan, kata Fauzan, sangat sulit untuk dihilangkan. Namun hal ini dapat dikendalikan dengan mengatur konten-konten yang ada di Internet melalui iklan yang ditampilkan ketika pencarian film dilakukan.

“Pembajakan itu enggak bisa semua dihilangkan secepat mungkin. Tidak bisa ditangkap dengan mudah. Melalui iklan iklan di website bisa dikendalikan, mereka enggak dapat uang dari iklan pasti bisa,” jelasnya.

Terkait hasil riset tentang capaian makro subsektor film, meskipun kontribusinya masih belum dibilang besar namun pertumbuhan film nasional pada 2016 telah mencapai dua digit, yakni 10,1 persen. Ini artinya meningkat 3,42 persen dari tahun sebelumnya.

Subsektor film, animasi don video tercatat sebagai salah satu subsektor ekonomi kreatif dengan laju pertumbuhan yang paling tinggi. Ternyata 10,96 persen pengusaha atau perusahaan di subsektor film, animasi don video memiliki pendapatan di antara Rp 2,5 milyar sampai dengan Rp 50 miliar.(mer/rur)