Dispenduk Capil Surabaya Siap Antisipasi Urbanisasi

Juni 29, 2017

Surabaya, cakrawalanews.co – Seiring berlalunya Lebaran, jumlah penduduk Surabaya diperkirakan akan bertambah karena urbanisasi. Karena itulah Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil (Dispenduk Capil) Kota Surabaya sudah punya ancang-ancang untuk mengantisipasinya.

Kepala Dispenduk Capil Surabaya Suharto Wardoyo menjelaskan, salah satu upaya yang bisa dilakukan Dispenduk capil dalam mengatasi masalah urbanisasi adalah dengan mengadakan operasi yustisi.

Yustisi biasanya dilakukan delapan kali dalam sebulan. Sasaran tersebar di seluruh wilayah Surabaya. Khususnya, daerah industri seperti Rungkut, Asem Rowo, dan Morokrembangan.

Untuk mengadakan operasi yustisi, dispendukcapil bersinergi dengan aparat lain. Mulai ketua RT/RW, lurah, camat, hingga satpol PP. Mereka menganalisis kedatangan penduduk musiman di daerah masing-masing.

Prinsipnya, pendatang boleh saja masuk ke Surabaya. Namun, mereka harus memiliki keterampilan dan bisa mendapatkan pekerjaan tetap. Yang belum membekali diri dengan keahlian khusus sebaiknya tidak coba-coba mengadu nasib ke Surabaya.

“Jika tempat tinggal yang bersangkutan tidak sesuai dengan peruntukan, mengganggu ketertiban, atau tidak mempunyai pekerjaan maka warga bersangkutan akan dipulangkan ke daerah asalnya,” tegas Suharto.

Menurut Buku Surabaya Dalam Angka 2015 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Surabaya, pada tahun 2009 pendatang berjumlah 50.995 jiwa dan bertambah pada 2010 dengan 61.649 jiwa , namun pada tahun 2011 menurun hingga angka 41.441 jiwa.
Pada 2012 terdapat peningkatan yang signifikan tentang pendatang yang datang dengan jumlah hampir 3 kali lipat tahun sebelumnya, yaitu 111.594 jiwa, dan kembali menurun pada tahun 2013 dengan 65.048 jiwa lalu naik mulai stabil pada 2014 dengan 67.416 jiwa.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa Surabaya mendapat para pendatang dan juga nantinya akan berdampak pada aspek-aspek tertentu. Aspek-aspek yang dimaksud adalah aspek ekonomi, sosial, serta munculnya permasalahan-permasalahan ‘anakan’ dari aspek tersebut, seperti permukiman kumuh, kemiskinan, tingginya tingkat pengangguran, permasalahan lingkungan dan kriminalitas yang tinggi.
Masalah-masalah tersebut tentu tak terelakkan bagi Surabaya dan penduduk-penduduknya sebagai akibat dari urbanisasi yang terus menerus terjadi.

(cn1)